KELEMBUTAN
FILSAFAT
Dosen
Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Oleh
:
Yuntaman
Nahari (18709251021)
Pascasarjana Pendidikan Matematika A 2018
Filsafat merupakan olah
pikir. Berfilsafat bisa berasal dari apa saja. Apa saja yang dipikir, didengar,
dan dirasakan oleh seseorang adalah awal berfilsafat. Objek filsafat meliputi
yang ada dan yang mungkin ada di pikiran. Jika diekstensikan menjadi yang ada
dan yang mungkin ada di hati. Cara mengetahui yang ada di pikiran dan hati berbeda
domainnya. Persoalan filsafat ada dua, yaitu memahami apa yang ada di luar
pikiran dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak ada seorang pun di
dunia ini yang mampu menjelaskan pikirannya. Maka sebenar-benarnya kita tidak
ada satu orangpun di dunia yang mampu menjelaskan pikirannya sendiri, yang ada
hanya berusaha, serta memahami yang di luar pikiran. Lantas mengapa manusia
sombong? Berusaha mengerti banyak hal itu boleh, tapi jika mengklaim sudah
mengerti banyak hal itu yang menjadi bencana. Mengaku sudah mengerti padahal
belum mengerti.
Bahayanya orang
berfilsafat adalah kalau sudah sampai pada tahap jelas, karena sudah tidak
berpikir lagi. Maka orang yang ilmunya tinggi adalah orang yang mengaku bahwa
ia tidak mengetahui segala sesuatu (Socrates). Sebenar-benarnya filsafat adalah
berpikir. Kerjakan pikiranmu, pikirlah pekerjaanmu, dan berdoalah secara terus
menerus. Mengerjakan pikiran adalah setengah, memikirkan pekerjaan adalah
setengah, berdoa juga setengah, maka 1/2 + 1/2 + 1/2 = 1, karena segala sesuatu
bergantung kepada ruang dan waktunya. Berfilsafat adalah
bagaimana penjelasanmu dan seberapa jauh uraianmu. Namun engkau tidak menjelaskan
bahwa itu sebenarnya adalah penjelasan.
Ketika seseorang
seharusnya berpikir tetapi tidak berpikir maka secara filsafat orang itu adalah
orang yang mati. Para filsuf berkata, sesungguhnya aku sedang melihat para
mayat yang berjalan karena aku melihat mereka tidak dalam keadaan berpikir,
tetapi saling menjelekkan. Jika dinaikkan ke spiritual, sebenar-benarnya aku
sedang melihat para santri-santriku tidak dalam keadaan berdoa, dialah
sebenar-benar mayat yang berjalan. Tiadalah sebenar-benar orang yang mampu
menguasai ruang dan waktu, yang ada hanyalah berusaha. Maka orang menguasai
ruang atau waktu jika dia itu ada (memiliki kesadaran) dalam ruang yang
semestinya dia ada. Sebaliknya, akan terancam kematian jika tidak berada di
ruang dan waktu yang tepat.
Hidup adalah holistik
dan komprehensif. Hidup dalam keseluruhan. Diri dalam keseluruhan dan
keseluruhan di dalam diri. Semua harus dikelola lewat spiritualitas, keyakinan
dan ibadahnya masing-masing. Pikiran dan perasaan setiap saat berganti-ganti, berinteraksi.
Berpikir sepersekian puluh detik sudah terus menerus, antara tesis sintesis.
Begitu juga dengan hati. Maka sebenar-benar hati harus dalam keadaan bergetar.
Getaran hati adalah panggilan kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Semua perkara
dibalut dengan getaran hati dalam keadaan memanggil nama Tuhan. Karena ibadah
tertinggi adalah ibadah memanggil nama Tuhan. Hanya Tuhanlah yang bisa sama
dengan namaNya, tidak ada ciptaan Tuhan yang mampu menyamaiNya. Jika ingin
selamat dunia akhirat harus selalu bergetar hatinya dalam keadaan sadar maupun
tidak sadar, bekerja maupun tertidur. Sedetik engkau tidak dalam keadaan
berdoa, masuklah setan atau potensi negatif.
Sebenar-benanr hidup
adalah sesuai dengan contoh yang diberikan Tuhan, sesuai dengan lintasan bumi.
Hati adalah roda bawah, pikiran adalah roda atas. Perjalanan adalah roda yang
berputar. Setiap hari kita perlu memikirkan perasaan kita dan merasakan pikiran
kita. Teladannya adalah bumi mengelilingi matahari, tidak akan sampai pada
tempat yang sama selama hidup. Disamping dia berputar pada porosnya, dia juga
mengelilingi matahari. Begitu juga dengan manusia.
Filsafat berada di
bawah spiritual tapi tidak akan pernah menjangkau spiritual, karena berbeda
domain. Domain filsafat adalah pikiran, domain spiritual adalah hati dan yang
lainnya. Filsafat lebih lembut dari benda yang paling halus karena filsafat
bisa mengisi ruang tanpa mengisi. Yang bisa mengalahkan kelembutan filsafat
adalah kelembutan hati atau spiritual. Tidak ada yang bisa menandingi
spiritual. Wujud spiritual yang paling bisa dipahami manusia adalah cahaya.
Doakan apa yang kamu kerjakan dan doakan
apa yang kamu pikirkan”