Minggu, 14 Oktober 2018

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU

KELEMBUTAN FILSAFAT
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Oleh :
Yuntaman Nahari (18709251021)
Pascasarjana Pendidikan Matematika A 2018

Filsafat merupakan olah pikir. Berfilsafat bisa berasal dari apa saja. Apa saja yang dipikir, didengar, dan dirasakan oleh seseorang adalah awal berfilsafat. Objek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada di pikiran. Jika diekstensikan menjadi yang ada dan yang mungkin ada di hati. Cara mengetahui yang ada di pikiran dan hati berbeda domainnya. Persoalan filsafat ada dua, yaitu memahami apa yang ada di luar pikiran dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menjelaskan pikirannya. Maka sebenar-benarnya kita tidak ada satu orangpun di dunia yang mampu menjelaskan pikirannya sendiri, yang ada hanya berusaha, serta memahami yang di luar pikiran. Lantas mengapa manusia sombong? Berusaha mengerti banyak hal itu boleh, tapi jika mengklaim sudah mengerti banyak hal itu yang menjadi bencana. Mengaku sudah mengerti padahal belum mengerti.
Bahayanya orang berfilsafat adalah kalau sudah sampai pada tahap jelas, karena sudah tidak berpikir lagi. Maka orang yang ilmunya tinggi adalah orang yang mengaku bahwa ia tidak mengetahui segala sesuatu (Socrates). Sebenar-benarnya filsafat adalah berpikir. Kerjakan pikiranmu, pikirlah pekerjaanmu, dan berdoalah secara terus menerus. Mengerjakan pikiran adalah setengah, memikirkan pekerjaan adalah setengah, berdoa juga setengah, maka 1/2 + 1/2 + 1/2 = 1, karena segala sesuatu bergantung kepada ruang dan waktunya. Berfilsafat adalah bagaimana penjelasanmu dan seberapa jauh uraianmu. Namun engkau tidak menjelaskan bahwa itu sebenarnya adalah penjelasan.
Ketika seseorang seharusnya berpikir tetapi tidak berpikir maka secara filsafat orang itu adalah orang yang mati. Para filsuf berkata, sesungguhnya aku sedang melihat para mayat yang berjalan karena aku melihat mereka tidak dalam keadaan berpikir, tetapi saling menjelekkan. Jika dinaikkan ke spiritual, sebenar-benarnya aku sedang melihat para santri-santriku tidak dalam keadaan berdoa, dialah sebenar-benar mayat yang berjalan. Tiadalah sebenar-benar orang yang mampu menguasai ruang dan waktu, yang ada hanyalah berusaha. Maka orang menguasai ruang atau waktu jika dia itu ada (memiliki kesadaran) dalam ruang yang semestinya dia ada. Sebaliknya, akan terancam kematian jika tidak berada di ruang dan waktu yang tepat.
Hidup adalah holistik dan komprehensif. Hidup dalam keseluruhan. Diri dalam keseluruhan dan keseluruhan di dalam diri. Semua harus dikelola lewat spiritualitas, keyakinan dan ibadahnya masing-masing. Pikiran dan perasaan setiap saat berganti-ganti, berinteraksi. Berpikir sepersekian puluh detik sudah terus menerus, antara tesis sintesis. Begitu juga dengan hati. Maka sebenar-benar hati harus dalam keadaan bergetar. Getaran hati adalah panggilan kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Semua perkara dibalut dengan getaran hati dalam keadaan memanggil nama Tuhan. Karena ibadah tertinggi adalah ibadah memanggil nama Tuhan. Hanya Tuhanlah yang bisa sama dengan namaNya, tidak ada ciptaan Tuhan yang mampu menyamaiNya. Jika ingin selamat dunia akhirat harus selalu bergetar hatinya dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, bekerja maupun tertidur. Sedetik engkau tidak dalam keadaan berdoa, masuklah setan atau potensi negatif.
Sebenar-benanr hidup adalah sesuai dengan contoh yang diberikan Tuhan, sesuai dengan lintasan bumi. Hati adalah roda bawah, pikiran adalah roda atas. Perjalanan adalah roda yang berputar. Setiap hari kita perlu memikirkan perasaan kita dan merasakan pikiran kita. Teladannya adalah bumi mengelilingi matahari, tidak akan sampai pada tempat yang sama selama hidup. Disamping dia berputar pada porosnya, dia juga mengelilingi matahari. Begitu juga dengan manusia.
Filsafat berada di bawah spiritual tapi tidak akan pernah menjangkau spiritual, karena berbeda domain. Domain filsafat adalah pikiran, domain spiritual adalah hati dan yang lainnya. Filsafat lebih lembut dari benda yang paling halus karena filsafat bisa mengisi ruang tanpa mengisi. Yang bisa mengalahkan kelembutan filsafat adalah kelembutan hati atau spiritual. Tidak ada yang bisa menandingi spiritual. Wujud spiritual yang paling bisa dipahami manusia adalah cahaya.

“Pikirkan apa yang kamu kerjakan, kerjakan apa yang kamu pikirkan, kemudian doakan.
Doakan apa yang kamu kerjakan dan doakan apa yang kamu pikirkan”